Daud : “Fungsi Lab Kesehatan Kurang Dieksplorasi, Perlu Ada Inovasi di Bidang Life Science”

Daud Abdurrahman merupakan salah satu inisiator MLT Unite, sebuah portal berita dan informasi untuk profesi Analis Kesehatan di Indonesia. Sekarang beliau sedang menimba ilmu di Wageningen University, Belanda. Mahasiswa program studi Master of Molecular Life Sciences ini merupakan alumni D-III dan D-IV Analis Kesehatan Poltekkes Bandung yang mendapatkan beasiswa LPDP (Lembaga Pengelola Dana Pendidikan) di tahun 2014.

Beberapa bulan yang lalu tim redaksi Labtechreation melakukan perbincangan singkat dan santai dengan beliau melalui aplikasi smartphone. Berikut hasilnya :

11123935_408947452621650_1738706475_n

Redaksi :
Hallo, Kang Daud! Apa kabar di Belanda sana?

Daud     :
Hallo. Selamat siang waktu Belanda masbro, kabar baik, Alhamdulillah.

Redaksi :
Ngobrol dikit ya, Kang Daud kan lulusan DII dan DIV Analis Kesehatan Bandung, terus sekarang ambil pendidikan S2 di bidang apa?

Daud     :
Iya alhamdulillah lulus DIV Analis Kesehatan Bandung tahun 2012, sekarang sedang kuliah di Wageningen University ambil program Master Molecular Life Sciences dan peminatan/konsentrasi di Biomedical Research.

Redaksi :
Berbicara tentang Life Science, sepertinya istilah itu masih belum populer di Indonesia. Mungkin bisa sharing knowledge dengan kita, apa sih Life Science itu?

Daud     :
Wageningen punya motto untuk kotanya sendiri yaitu City of Life Science, dan yang saya rasakan disini masyarakat dan apa yang ada disekeliling mereka semuanya erat berhubungan dengan scientific study. Dan studinya itu selalu berhubungan dengan life = flora, fauna, mikroorganisme, dan manusia. Jadi lebih ke penerapan biologi dan ilmu-ilmu pendukung lainnya (bioinformatik/biologi molekuler) untuk kehidupan manusia dan lingkungannya yang lebih baik.

Redaksi :
Dengan berlatar belakang Analis Kesehatan, apakah tidak terlalu jauh hubungan antara ilmu TLM dengan bidang Life Science? Mengapa kang daud memutuskan untuk memilih pendidikan S2 dibidang ini?

Daud     :
Kalau dilihat secara umum enggak jauh, bahkan deket banget. Anatomi dan fisiologi itu bagian dari ilmu yang mesti diketahui seorang Analis Kesehatan, kemudian mikroorganisme infeksius juga dipelajari di Ankes, tapi tetep dilihat dari sisi diagnosis. Semuanya dikembalikan lagi ke tupoksi Analis. Nah, salah satu alasan kenapa saya ambil S2 di bidang ini karena saya sadar di Indonesia itu fungsi laboratorium kesehatan masih kurang dieksplorasi, terutama di bidang pengembangan dan riset. Jadi perlu ada masukan-masukan baru (inovasi) di bidang Life Science ini.

Redaksi :
Wah, informasi yang bermanfaat, Kang. Semoga ilmu Teknologi Lab Medik di Indonesia berinovasi dan terus berkembang. Terima kasih untuk waktunya dan semoga sukses kuliahnya, jangan lupa “Balik Bandung” :))

sumber foto : Instagram @daudayey

Kenapa Harus Membuat STR?

dsc_0306

“Buat apa bikin STR? Ga ngaruh ke gaji jadi naik, masih tetep bisa kerja kok ga pake STR juga” ujar seorang tenaga Analis Kesehatan senior.

Surat Tanda Registrasi (STR) adalah bukti tertulis yang diberikan oleh Menteri kepada Tenaga Kesehatan yang telah diregistrasi. Cukup banyak Analis Kesehatan senior yang menggerutu soal STR. Dulu memang belum ada peraturan yang mewajibkan tenaga Analis Kesehatan (sekarang Ahli Teknologi Laboratorium Medik) untuk membuat STR. Setelah lulus, bisa langsung bekerja di Lab Klinik. Mungkin dengan peraturan sekarang dirasa ribet dan mengeluarkan biaya tambahan untuk administrasi.

Hidup itu akan terus berdinamika. Hal ini menjadi salah satu ciri jika kita itu terus berkembang, untuk lebih maju dan lebih baik. Tenaga kesehatan berhubungan dengan pelayanan kesehatan dan nyawa orang lain, maka setiap tenaga kesehatan yang akan melakukan pelayanan kesehatan wajib terdaftar dan mendapatkan izin dari Pemerintah. Oleh karena itu, Pemerintah merasa perlu mengatur registrasi tenaga kesehatan untuk meningkatkan mutu pelayanan kesehatan yang diberikan oleh tenaga kesehatan. Maka pada tahun 2013 lalu, ditetapkanlah Permenkes No. 46 Tahun 2013 tentang Registrasi Tenaga Kesehatan. Jadi, sekarang untuk setiap tenaga kesehatan yang akan bekerja diwajibkan memiliki STR. Bukan hanya Tenaga Ahli Teknologi Laboratorium Medik, tetapi untuk semua tenaga kesehatan wajib memiliki STR.

Untuk mahasiswa TLM yang akan diwisuda dan disumpah sebentar lagi, mari diubah mindset nya. Harus kita sadari bahwa profesi ini belum ideal, namun dalam beberapa tahun ini terus berkembang menuju profesi yang lebih baik. Jangan apatis. Mari dukung dengan berpartisipasi dan buang jauh pikiran yang negatif. Berhentilah menggerutu terhadap peraturan ini. Memang masih banyak kekurangan dalam proses pembuatan STR yang dikeluarkan MTKI ini. Saya mengajukan tahun 2013 dan baru diberikan tahun 2015. Sangat lama dan bikin kezel. Apa boleh bikin, toh kebanyakan birokrasi di Indonesia seperti itu, lelet. Bolehlah marah-marah dengan birokrasi yang lama, tapi sekali lagi berhentilah menggerutu terhadap peraturan dan kebijakan ini. Jika ditelaah lebih dalam, peraturan ini cukup memberikan manfaat untuk profesi kita.

Gaji Ahli TLM di Indonesia tidak begitu besar, bisa dibilang kecil jika dibandingkan dengan pekerjaannya yang penuh resiko. Jika kita ingin bekerja di luar negeri dengan gaji yang lebih besar, STR sangat bermanfaat. STR dari negara asal akan menjadi salah satu persyaratan untuk bekerja di luar negeri. Dokumen ini sebagai tanda bahwa kita adalah tenaga profesional dan tidak ilegal.

Selain itu, data tenaga Ahli TLM yang ada di Indonesia sangatlah penting. Data jumlah dan penyebarannya tentu akan menjadi informasi yang harus diketahui organisasi profesi dan kementerian kesehatan untuk membuat berbagai kebijakan. Dan itu akan diketahui jika semua tenaga Ahli TLM melakukan registrasi dengan output nya berupa lembaran STR yang nantinya akan diberikan.

Jika sudah ada data, tentu dapat diolah menjadi berbagai informasi. Misalnya di daerah mana yang kekurangan tenaga Ahli TLM, atau bagaimana tingkat kesejahteraan tenaga Ahli TLM di daerah tertentu.

Jika sudah ada data, organisasi profesi juga akan lebih mudah memetakan masalah profesi tercinta ini. Sehingga bisa segera melakukan diplomasi dan advokasi kepada pihak kementerian kesehatan atau pihak lain yang berhubungan dengan profesi kita. Sehingga upaya “politik” ini tidak absurd tetapi berdasarkan data dan fakta. Dengan begitu argumen kita menjadi lebih kuat.

Berdasarkan UU No 36 Tahun 2014 Tentang Tenaga Kesehatan, disana tercantum nomenklatur Ahli TLM. Lalu berdasarkan Permenkes No. 46 Tahun 2013 juga bahwa setiap Tenaga Kesehatan yang akan menjalankan praktik dan/atau pekerjaan keprofesiannya wajib memiliki izin dari Pemerintah. Dengan ikut dan taat pada peraturan tersebut, kita harus bangga karena termasuk Warga Negara Indonesia yang baik.

Lalu jika ada yang bertanya apa pekerjaan kalian, tunjukanlah STR kalian dan jawablah dengan bangga : “Saya tenaga Ahli Tenaga Laboratorium Medik. Ya, Ahli Teknologi Laboratorium Medik yang profesional” (@izalcyber/labtechreation)

Analis Kesehatan Sudah Berubah

Nomenklatur Analis Kesehatan sudah berubah menjadi Ahli Teknologi Lab Medik.
Sesuai Permedikbud No 154 Tahun 2014 tentang Rumpun ilmu pengetahuan & Teknologi maka nama Program studi Teknologi Lab Medik sebagai Berikut:

Nama Program Studi D3 : Teknologi Laboratorium Medik
Nama Internasional : Medical Laboratory Technology
Gelar : AMd.Kes.
SKPI :Teknologi Laboratorium Medik

Nama Program Studi D4: Teknologi Laboratorium Medik D4
Nama Internasional : Medical Laboratory Technology
Gelar : S.Tr.Kes.
SKPI : Teknologi Laboratorium Medik

imlt

Laboratorium Diagnostik Klinik Pertama di Indonesia

isolation

Pada tahun 1923, ketika Institut Pasteur (sekarang PT. Bio Farma) memulai aktivitasnya di Bandung, sebuah laboratorium diagnostik rutin didirikan. Laboratorium ini tak hanya membantu para dokter dalam membuat diagnosis dan para pemangku kebijakan kesehatan dalam membuat pendekatan secara epidemiologi dan evaluasi penyakit, namun juga memberikan kesempatan kepada Institut Pasteur untuk mendapatkan strain-strain baru mikroorganisme untuk pemeriksaan lanjut atau tujuan-tujuan lainnya. Karena itu laboratorium ini menjadi sangat ‘populer’ dalam waktu yang relatif singkat, dapat dibuktikan dari jumlah spesimen yang dikirim untuk pemeriksaan bakteriologis dan serologis. Perhitungan kasar dari laporan KIRSCH NER pada tahun 1936, menyatakan bahwa kenaikan jumlah spesimen yang diperiksa setiap tahunnya selama periode 1924 hingga 1933 yaitu sekitar 2.000 – 13.000. Ini jelas bahwa 50 tahun yang lalu (dihitung dari ditulisnya artikel ini, 1975), Institut Pasteur sudah menjadi institusi yang tak tergantikan, khususnya dalam kasus epidemik.

Laboratorium klinik rutin ini lambat laun beralih fungsi menjadi Laboratorium Kesehatan Masyarakat untuk Jawa Barat dengan fokus utama pada penyakit smallpox, rabies, dan plague. Setelah masa perang, laboratorium ini meningkatkan aktivitasnya dan bahkan berkembang menjadi pusat rujukan nasional untuk beberapa kelompok bakteri seperti: Enterobacteria termasuk kolera dan koli patogen, Leptospira dan penyakit-penyakit yang disebabkan virus dan riketsia. Dalam konteks ini, Institut Pasteur tak hanya beraktivitas dengan masalah higiene serta produksi vaksin, namun juga dapat menyelesaikan dan menjabarkan masalah teknis kesehatan masyarakat dan pencegahannya.

Karena aktivitasnya yang tidak dapat ditinggalkan dan dilakukan dengan kesadaran akan tanggung jawab, khususnya setelah perang, Institut Pasteur kemudian oleh Kementerian Kesehatan diakui sebagai institusi yang berperan baik sebagai laboratorium kesehatan masyakarat pusat dengan laboratorium rujukannya di banyak bidang. Pelatihan untuk teknisi laboratorium/analis kesehatan dan untuk dokter-dokter serta ahli di bidang sains lainnya untuk menjadi ahli mikrobiologi juga telah dilaksanakan oleh Bio Farma.

In 1923, when Pasteur Institute started its activities in Bandung, a routine diagnostic laboratory was added. This laboratory has been not only aid for the medical practitioner in making his diagnosis and for the health officials in making epidemiological approach and evaluation of a disease but also given the opportunity to the institute to obtain new and fresh strains for further examinations and other various purposes. That this laboratory became very “popular” within a relative short time, could be proved by the number of specimens sent for bacteriological as well as serological examinations. Rough calculation of KIRSCH NER’s report in 1936 revealed that the increase of the number of specimens examined every year during the period of 1924 till 1933 was between 2,000 – 13,000. It is clear that even about 50 years ago, Pasteur Institute had become an indispendable institution, especially in cases of epidemics.

This routine diagnostic laboratory has gradually evolved into a Public Health Laboratory for West-Java with its main interest in smallpox, rabies, and plague. After the war, it increased its activities and it even developed into a National Reference Centre for, i.e. Enterobacteria including cholera and pathogenic coli, Leptospira, Viral, and Rickettsial diseases. In this way, Pasteur Institute has not only a constant with the current hygienic problems as far as the production of vaccines and other immunising agents is concerned, but it also can solve and elucidate practical problems of public health and preventive medicine.

Because of its undeniable activities, which were done with concious responsibility, especially after the war, the institute was soon acknowledged by the Ministry of Health as well-approved institution and was able to act as a Central Public Health laboratory with its reference laboratories in many fields. A training laboratory for laboratory technicians and for doctors and other masters of science to become microbiologist has also been established by Bio Farma

 – Taken from: Vade Mecum of Bio Farma, 1975 –

Foto – foto lainnya : steriliser mediabf

Labtechreation melakukan riset tentang sejarah profesi Analis Kesehatan/Ahli Teknologi Laboratorium Medik di Indonesia. Laboratorium Klinik merupakan tempat berkarya yang tak bisa dilepaskan dari profesi ini. Informasi tentang Laboratorium Klinik Pertama di Indonesia ini kami dapatkan dari vade mecum PT. Bio Farma tahun 1975. Semoga ini menjadi pengetahuan tambahan tentang sejarah laboratorium klinik di Indonesia. (@feriyadiramen/labtechreation)